"Pulihkan Bumi Kami, Ya Tuhan" - Perangkat Mengajar Katolik SMA/SMK

"Pulihkan Bumi Kami, Ya Tuhan"

Bulan ke-3 tahun 2020, awal mulanya Indonesia digemparkan dengan berita wabah corona. Dua orang warga negara Indonesia positif covid 19. Kabar itu diumumkan langsung oleh orang nomor satu di bumi Nusantara ini. Bulan demi bulan dilalui, hingga pada akhirnya semua harus terhenti sejenak.

Sebelum semuanya terjadi seperti ini, hari-hariku begitu terasa menyenanangkan. Hari itu begitu cerah, langit berwarna biru. Cahaya sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela kamarku dan terpantul di mataku, aku membuka mata dan bangun dari tempat tidurku. Aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah selesai bersiap-siap, aku pamit kepada kepada orangtuaku.

Aku : “ Selamat pagi Ma, Pa. Aku berangkat ke sekolah dulu.”

Mama : “ Iya, selamat pagi.”

Bapak : “ Hati-hati di jalan ya nak.”

Aku : “ Iya Pa.”

Bumi

Sesampainya di sekolah, aku langsung ke kelas, dan menyapa beberapa teman yang sudah berada di kelas. Aku langsung membantu teman-temanku yang sedang membersihkan kelas karena lima belas menit lagi bel akan berbunyi dan pelajaran pertama akan segera di mulai. Bel pun berbunyi, pertanda semua siswa masuk ke kelas masing-masing dan memulai belajar. Mata pelajaran pertama di kelasku yaitu seni budaya. Pak guru masuk ke kelas, dan seperti biasa kami memberi salam atau hormat. Setelah itu, pak guru mengambil absen atau daftar hadir untuk mengecek siswa yang hadir pada saat itu. Pelajaran pun di mulai. Pak guru menjelaskan materi-materi yang akan di pelajari dan memberikan tugas kelompok kepada kami pada saat itu. Kemudian kami di bagi menjadi beberapa kelompok. Aku satu kelompok dengan Dinda, Frits, Jesi, Yuni, dan Hencis. Dan kami kelompok yang ketiga.

Disitu kami semua mulai berdiskusi tentang tugas yang diberikan. Setelah itu kami menyampaikan sesi tanya jawab berkaitan dengan jawaban yang sudah didiskusikan bersama teman kelompok. Di sesi ini ada yang menanggapi, memberikan saran atau pendapat dan lain-lain. Bagian ini paling seru dan menyenangkan.

Hari-hari demi hari aku lalui seperti biasa. Pergi ke sekolah, beraktivitas diluar rumah dan didalam rumah, kerja kelompok bersama teman-teman, dan jika ada libur aku dan keluargaku menyempat diri untuk pergi berpiknik.

Sesampainya dengan pergantian bulan baru, kami masih beraktivitas seperti biasa. Pada malam hari, aku menatap layar handphoneku dan melihat berita-berita di sosial media. Tiba-tiba ada berita bahwa daerah kami terkena covid-19 dan termasuk dalam wilayah zona merah. Di situlah aku mulai panik. Aku berlari keluar dari kamar dan memberitahu berita ini kepada orang tuaku. Mereka sedang asyik menonton televisi di ruang tengah. Akupun langsung menemui mereka disitu.

Aku : “ Bapak sudah dengar berita tebaru ?. ”

Bapak : “ Berita terbaru apa ?.”

Aku : “ Ini berita terbaru, bahwa daerah kita terkena covid-19 dan pasiennya sedang dirawat dirumah sakit.”

Mama : “ wah, mulai sekarang kita harus waspada nih.”

Bapak : “ iya betul sekali Ma.”

Setelah memberitahu orang tuaku, aku duduk sejenak di sofa ruang tengah sambil memainkan handphone. Beberapa saat kemudian media sosial dipenuhi dengan berita tersebut. Disitu sebagian aku membaca bahwa ada banyak orang yang khawatir dan panik sampai ketakutan ketakutan setelah mendengar berita itu. Dan besoknya aku masih pergi ke sekolah untuk mendengar pengumuman. Setelah sampai di sekolah, beberapa saat kemudian kami mendapat surat pemberitahuan untuk belajar dari rumah. Bel pulang sekolah pun berbunyi dan kami harus meninggalkan sekolah untuk beberapa waktu. Aku berpikir, mungkin ini hanya sebentar saja. Dan pasti kami akan bersekolah kembali seperti biasa. Aku menyapa beberapa teman kelas dan kemudian aku pulang.

Sesampainya dirumah, aku mengganti pakaian. Setelah mengganti pakaian, mama memanggilku untuk makan siang bersama. Selesai makan siang, kami duduk diteras rumah sambil bercerita. Aku langsung memberitahu mama dan papa.

Aku : “ Ma, Pa. Tadi disekolah kami mendapat surat pemberitahuan untuk belajar dari rumah, dan mungkin akan dilaksanakan secara online.”

Bapak : “ Yah sudah, mau bagaimana lagi.”

Mama : “ Terus kapan dimulainya bejar online itu ?.”

Aku : “ mungkin menunggu informasi selajutnya dari sekolah, Ma.”

Mama : “ooh..” ( dengan suara yang lembut )

Handphoneku berbunyi “kling-kling” , aku melihat handphoneku dan ada notifikasi dari grup kelas, yaitu minggu depan akan dilaksanakan belajar online.

Satu minggu pun berlalu. Hari ini adalah hari dimana pembelajaran online akan dimulai. Hari yang biasanya ke sekolah tetapi terhambat. Dimana biasanya kami berada didalam kelas dan sekarang berubah, biasanya terdengar nama panggilan untuk mengambil absen oleh guru kami, dan sekarang belum terdengar lagi suara panggilan itu. Sampai dentingan bel sekolah pun kami belum mendengarnya lagi. Semuanya telah berubah sejak pandemi ini berawal. Ada rasa rindu ingin bertemu dengan teman-teman dan guru-guru di sekolah, tetapi keadaan sangat tidak memungkinkan.

Pelajaran online telah selesai untuk hari ini. Aku pergi ke kamar dan beristirahat sejenak. Selepas aku membaringkan badan, sore harinya aku bangun dan membantu orang tuaku untuk membersihkan rumah. Setelah itu aku membersihkan diri dan bersiap-siap untuk makan malam bersama. Aku langsung ke meja makan dan membantu mama untuk mempersiapkan makanan di meja. Sesudah  mempersiapkan makanan di meja, mama langsung memanggil bapak, setelah itu kami makan bersama. Setelah makan bersama, kami beranjak dari meja makan dan menonton televisi.

Beberapa saat kemudian aku pergi ke kamar. Aku mengambil buku diaryku, yang aku simpan dalam laci meja belajar. Aku suka menulis walaupun kadang- kadang saja. Aku menarik kursi belajar dan duduk, sambil menuliskan :

"Hari demi hari kian marak, banyak kasus yang bertambah. Apa yang melanda bumi ini membuatnya berubah dalam sekejap. Manusia pun seketika dibuat bungkam, kendaraan yang hampir setiap hari lalu-lalang di jalan raya, kian menjadi sunyi dan sepi. Wabah ini memberikan pelajaran bagi kita. Kita tidak boleh panik, tetapi kita harus waspada dan ikuti aturan pemerintah. Supaya kita dapat mengurangi terjadinya wabah penyakit ini".

Pukul 22.00 malam pun tiba. Tidak terasa, malam itu begitu gelap. Aku menyimpan buku diary itu kembali di dalam laci meja belajarku. Aku beranjak dari meja belajar lalu ke tempat tidur. Rasa ngantuk itupun datang kepadaku, kelopak mataku mulai bersayup-sayup. Sebelum tidur aku berdoa. Kuselipkan doa dengan kalimat “Pulihkan bumi kami, Ya Tuhan dan kembalikan seperti semula.”



Penulis Festiarany Saputri Tao, peserta didik kelas XII MIPA 1, SMA PGRI Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to ""Pulihkan Bumi Kami, Ya Tuhan""

Posting Komentar