Pengaruh Perkembangan Teknologi Terhadap Remaja - Perangkat Mengajar Katolik SMA/SMK

Pengaruh Perkembangan Teknologi Terhadap Remaja

Manusia tidak pernah terlepas dari pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang kehidupannya. Bahkan sudah sejak dalam kandungan ibu pun manusia sudah mulai tersentuh oleh iptek. Misalnya selama ibu mengandung, ibu diminta untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi yang sudah diolah melalui teknologi yang canggih.

Perkembangan iptek sangat mempengaruhi kehidupan manusia pada umumnya dan para  pelajar khususnya. Ada banyak perkembangan baru yang muncul yang sangat mempengaruhi pola pikir dan perilaku para pelajar. Banyak hal baru yang dilihat dan dialami oleh para pelajar. 

Di kalangan remaja begitu hangat dan marak membicarakan  soal Komputer, Internet dan Hand Phone (HP). Berkembang pesatnya teknologi informasi dan telekomunikasi saat ini, di satu sisi memudahkan para pelajar untuk mengakses hal-hal baru yang berhubungan dengan pendidikan, memudahkan untuk berkomunikasi dan memungkinkan para remaja untuk mengetahui peristiwa yang terjadi di tempat lain dengan cepat. 

Pengaruh pergaulan bebas

Di zaman yang serba modern ini, perkembangan iptek dapat dengan cepat mempengaruhi perkembangan pola pikir anak remaja yang mengarah kepada perubahan perilakunya. Kita tidak dapat mengingkari bahwa perkembangan iptek dapat membawa dampak positif maupun dampak negatif bagi kehidupan para remaja. Bicara tentang pengaruh yang positif tentu kita akan merasa senang. Namun, dampak negatif dapat meresahkan banyak orang.

Perkembangan iptek tentu sejalan dengan arus globalisasi  yang penuh tantangan di mana semua orang termasuk para remaja-pelajar dapat terjerumus ke hal-hal yang buruk yang dapat merusak masa depannya. Budaya-budaya dari luar dapat masuk dan mempengaruhi kehidupan anak yang nantinya akan mengarah ke pergaulan bebas. 

Ini tentu merupakan hal yang negatif dalam mana para remaja-pelajar  melakukan kegiatan westernisasi yaitu kecenderungan untuk meniru habis-habisan kebudayaan atau polah hidup kebarat-baratan, seperti gaya rambut, gaya berpakaian serta gaya hidup lainnya. Semuanya itu akan berakibat pada munculnya persoalan baru seperti kasus aborsi yang berawal dari hidup yang terlalu bebas. Selain itu muncul juga kasus narkoba.

Ada banyak faktor yang memungkinkan para remaja-pelajar bisa terjerumus ke dalam perilaku yang negatif, yakni kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orangtua yang menyebabkan anak mencari pemecahan sendiri terhadap persoalan yang dihadapinya. 

Kadang juga orangtua terlalu overprotective artinya melindungi atau mengekang anaknya secara berlebihan sehingga anak sulit berkreasi atau berkembang berdasarkan keadaan dirinya yang sebenarnya. Orangtua juga tidak pernah mau mendengarkan keluhan anaknya dan enggan memahami persoalan yang dialami oleh anaknya. 

Ada juga orangtua yang membiarkan anaknya lepas bebas tanpa ada aturan yang mengikat dengan suatu alasan yaitu membiarkan anak merasa senang dan bahagia. Lingkungan juga turut memberikan sumbangan tersendiri bagi pembentukan perilaku anak. Di sini sesungguhnya peran orangtua sangat penting.

Orangtua dituntut untuk tanggap terhadap adanya perkembangan iptek. Banyak anak remaja-pelajar yang sudah terjerumus dalam seks bebas sehingga banyak anak yang hamil tampa dikehendaki yang lambat laun melakukan aborsi. 

Kita tahu bahwa free sex atau seks bebas bukan hanya sekedar penyimpangan terhadap norma yang berlaku dalam masyarakat tetapi sudah berkembang menjadi sebuah gaya hidup. Wujud dari seks bebas antara lain seks di luar nikah, kumpul kebo, kawin kontrak, komersialisasi hubungan seks dan penyimpangan seks sperti homoseksual dan lesbian.

Selain seks bebas, ada juga remaja-pelajar yang melakukan penyalahgunaan narkoba dan minuman keras serta merokok. Banyak hal buruk  dari pergaulan bebas yakni putus sekolah karena harus menikah akibat kehamilan atau diminta harus bertanggung jawab. 

Anak tidak akan mendapat prestasi yang baik cenderung memberontak terhadap guru, orangtua, motivasi belajar sangat rendah serta tidak menyukai kegiatan-kegitan ekstrakurikuler. Keadaan ini sudah menujukkan suatu masa depan yang suram. Selain itu, muncul juga berbagai jenis penyakit seperti sifilis, gonoroe (kencing nanah), herpes simples dan penyakit mematikan lainnya yaitu HIV/AIDS. 

Berbicara tentang pergaulan bebas berarti berhubungan erat dengan nilai moralitas dan pendidikan anak. Kita melihat bahwa di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi, banyak anak remaja-pelajar yang terjebak dalam pergaulan bebas atau gaya hidup bebas. 

Jika anak sudah terjebak dalam pergaulan bebas maka ia siap mendapat julukan baru dari masyarakat yaitu sebagai anak yang tidak memiliki etika bergaul yang baik. Kita tahu bahwa etika merupakan peraturan atau ketentuan yang menetapkan tingkah laku yang baik dalam pergaulan atau dalam hubungan dengan orang lain. Di sini etika berhubungan dengan sopan santun dalam pergaulan. 

Berhadapan dengan semua kenyataan di atas, sebagai seorang anak yang terpelajar dan berpendidikan, kita harus bersikap kritis dan selektif terhadap perkembangan baru yang diperoleh. 

Bersikap kritis berarti sanggup membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Selektif berarti berani memilih hal yang baik untuk kemajuan diri. Supaya hal ini bisa kita jalankan, ada beberapa hal yang mesti perhatikan: 

Pertama, menjalin relasi yang intim dengan Tuhan seturut agama dan kepercayaan yang dianut. Kita tahu bahwa setiap agama mengajarkan tentang moral yang benar dalam kehidupan. Maka, ketika kita tekun beribadah atau berdoa kepada Tuhan niscaya Tuhan akan mengarahkan kita ke jalan hidup yang benar seturut kehendakNya. 

Kedua, hadirkan sikap cinta dan rasa memiliki akan norma atau aturan yang baik yang berlaku dalam masyarakat. Aturan di sini berfungsi sebagai instansi yang mengontrol perilaku kita agar tetap sesuai dengan kehendak bersama dalam hidup bermasyarakat. Di sini pergaulan kita diarahkan untuk kebaikan dan kebahagiaan hidup bersama. Karena itu memilih teman yang baik mutlak perlu dilakukan. 

Ketiga, beranikan diri untuk mengatakan TIDAK apabila teman mengajak untuk melakukan hal-hal yang buruk. Kebanyakan dari kita anak remaja-pelajar sulit mengatakan tidak apabila diajak oleh teman akrab untuk melakukan hal-hal yang negatif. Tetapi untuk kebaikan diri, kita harus sanggup menolaknya meskipun ia sahabat terdekat kita. Hanya dengan begitu kita sudah memberikan yang terbaik untuknya dan masa depannya.

Untuk itu, saya mengajak kita sekalian anak-anak remaja-pelajar Sumba Timur untuk sanggup menolak berbagai macam tawaran buruk yang menggiurkan kita. Kita harus mampu menyaring dan menahan segala macam godaan yang bisa membuat kita terjerumus ke dalam pergaulan bebas dengan berkata: say no to drugs, say no to free sex, say no to abortion. Dengan begitu kita akan hidup secara benar, bermoral, dan beradab. Akhirnya, kita boleh bermimpi dan menatap masa depan yang gemilang.


Penulis: Veronika Verawati Ina, Peserta didik SMA PGRI Waingapu, Sumba Timur, NTT


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengaruh Perkembangan Teknologi Terhadap Remaja"

Posting Komentar