Bakat Bukan Untuk Dipendamkan - Perangkat Mengajar Katolik SMA/SMK

Bakat Bukan Untuk Dipendamkan

Setiap orang dalam dirinya sendiri memiliki bakat atau kemampuan. Di kalangan orang kristiani, bakat atau kemampuan itu sering disebut dengan talenta. Bakat atau talenta ini tentu berbeda-beda untuk setiap orang. Perbedaan ini kadang memberi ruang untuk saling melengkapi dengan membangun kerja sama yang saling menguntungkan. Namun di sisi lain dapat menciptakan persaingan yang tidak sehat dengan saling menjatuhkan.

Melalui artikel sederhana ini, para remaja Kristen pada umumnya akan disadarkan tentang adanya potensi dalam diri mereka. Dan, potensi itu bukan untuk dipendamkan melainkan untuk dikembangkan.

Pada prinsipnya setiap orang ingin menggapai kesuksesan. Tidak ada orang di dunia ini yang memiliki cita-cita untuk menjadi orang yang gagal. Meski demikian, dalam banyak kasus ada orang yang berhasil menggapai keberhasilan dan ada banyak orang juga yang selalu menuai kegagalan dalam setiap usaha dan cita-citanya. 

Talenta
Photo by Budgeron Bach from Pexels

Menyadari Kelebihan dan Kekurangan

Pengalaman menunjukkan bahwa setiap orang menggapai kesuksesan setelah melalui segudang kegagalan. Mereka berhasil meraih cita-cita setelah melewati jalan yang penuh liku-liku. Namun berkat kesabaran serta kerja keras atau ketekunan mereka akhirnya menjadi orang sukses. Di sisi lain, banyak juga orang yang alami kegagalan oleh karena berhenti berusaha atau mengalami patah semangat mana kala kegagalan kembali menghampiri.

Kisah lain pun tersaji dalam kehidupan bahwa keterbatasan fisik ternyata bukanlah halangan untuk menggapai kesusksesan. Ada orang buta yang bisa bernyanyi dengan sangat merdu serta terampil  memainkan alat musik. Ada juga yang sanggup menghasilkan lukisan yang indah dengan hanya menggunakan kaki karena terlahir tanpa tangan. Sementara ada yang terlahir sempurna tetapi seakan tidak memiliki bakat atau kemampuan sehingga kehadirannya dianggap membebankan orang lain.

Kenyataan ini hendak menunjukkan bahwa setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan demikian hal pertama yang harus dilakukan oleh setiap orang adalah menyadari kelebihan dan kekurangan diri. Menyadari di sini berarti kenal apa yang menjadi keunggulan diri serta tahu apa yang menjadi kelemahan diri, antara lain: dari segi fisik atau jamani, bakat atau kemampuan, dari segi material atau ekonomi, sifat-sifat, dan  impian atau cita-cita yang ingin dicapai.

Keunggulan yang dimiliki hendaknya tidak membuat diri sombong dengan merendahkan atau meremehkan orang lain.Tetapi, keunggulan diri itu harus dikembangkan atau ditingkatkan. Sebab, ada orang yang gampang berpuas diri padahal ia masih bisa mendapatkan kesuksesan yang lebih baik  lagi. 

Sementara itu, kekurangan atau kelemahan yang dimiliki bukan untuk diratapi atau melihat hidup sebagai tragedi yang memiliuhkan, membuat diri menjadi minder dan menyerah pasrah pada keadaan. Kelemahan yang dimiliki harus disadari sekaligus diatasi. Cara yang paling ampuh mengatasi kekurangan adalah dengan tekun mengembangkan kelebihan diri. Sebab, sebagaimana yang sudah dikatakan di awal bahwa keterbatasan fisik sekalipun bukanlah hambatan untuk menggapai kesuksesan.

Mentalitas atau spirit yang harus dibangun dari dalam diri adalah kerja keras, tekun, tidak patah semangat, optimis serta kerendahan hati untuk mau belajar dari orang lain yang sudah sukses. Banyak fakta terlihat bahwa banyak orang miskin yang meraih keberhasilan karena ia menyadari keadaanya dan berusaha keluar dari jeratan kemiskinan.

Menelusuri Pesan Kitab Suci

Setiap orang yang beriman Kristiani pasti sadar betul jika Allah mengaruniakan bakat atau talenta kepada setiap orang. Bakat atau talenta yang diberikan Tuhan itu berbeda-beda untuk setiap individu. Untuk memahaminya lebih dalam mari membaca kutipan Kitab Suci Matius 25: 14-30 tentang “Perumpamaan tentang Talenta” berikut ini:

Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap.

Berdasarkan bacaan Kitab Suci di atas, dapat ditarik beberapa pesan atau pokok pikiran berikut ini:

a. Relasi Tuan dan Hamba

Tuhan Yesus menyajikan sebuah perumpamaan tentang talenta kepada murid-muridNya dalam pola tuan dan hamba. Tuan mempercayakan talenta kepada tiga orang hambanya untuk dikembangkan. Tuan di sini sebagai pemilik sedangkan hamba sebagai orang dipercayakan oleh tuan untuk melakukan tugas tertentu. Hamba juga merupakan orang kepunyaan tuan yang harus siap melayani tuan. Jika hamba tidak melaksanakan tugas seperti yang dikehendaki tuannya maka hamba itu akan dihukum oleh tuannya. Dalam baacaan kitab suci di atas ditampilkan tuan yang bertindak tegas kepada hamba yang tidak mengembangkan talenta yang telah diberikannya. Dari sini terlihat jelas bahwa tuan dan hamba memiliki relasi yang  tidak terpisahkan.

b. Setiap Orang Diberi Talenta

Tuan dan hamba dalam bacaan Kitab Suci di atas adalah Tuhan dan Tuhan dan manusia. Tuan bertindak sebagai Tuhan dan manusia adalah hamba. Tuhan mengaruniakan atau memberikan talenta kepada setiap pribadi. Talenta yang Tuhan berikan itu bukan untuk dipendamkan atau dikuburkan ke dalam tanah melainkan untuk dikembangkan atau untuk digandakan.

c. Tuhan Beri Talenta Sesuai Kesanggupan

Tuhan memberikan talenta kepada setiap orang tidak melampaui kesanggupan manusia. Ia mengaruniakan talenta itu seturut kesanggupan yang dimiliki manusia. Dalam bacaan Kitab Suci di atas terlihat jelas dimana ada orang yang diberi lima talenta, dua talenta dan satu talenta. Tentu saja talenta yang diberikan ini sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh manusia. 

d. Tuhan Marah

Tuhan menuntut manusia untuk mengembangkan talenta yang diberikannya. Dia akan memberikan kelimpahan kepada manusia yang mengembangkan talenta atau bakat yang dimiliki. Tentu saja Tuhan memuji manusia yang mengembangkan talenta yang telah diberikanNya, sebagaimana yang dilakukan oleh hamba yang pertama dan hamba yang kedua. Dan di sisi lain Tuhan marah, kecewa, dan menindak tegas manusia yang hanya memendamkan talenta yang diberikanNya. Memendamkan di sini identik dengan sikap malas, cuek dan harap gampang. Hal ini yang dilakukannya kepada hamba yang ketiga. Tuhan mengambil kembali talenta yang diberikanNya itu dan memberikannya kepada mereka yang dengan tekun mengembangkannya.

Kesimpulan

Setiap orang Kristen dipanggil untuk mengembangkan talenta. Dengan demikian mengembangkan talenta atau bakat dan kesanggupan merupakan salah satu panggilan dasar kristiani. Mengembangkan talenta sama artinya dengan mengelola hidup agar menjadi lebih baik. Dan Tuhan menghendaki hal itu terjadi. 

Setiap orang memiliki bakat atau kemampuan masing-masing. Bakat, kemampuan atau talenta yang dimiliki itu harus dikembangkan. Artinya harus ada ketekunan, kerja keras serta kesediaan untuk terus berkarya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Orang yang menjalaninya akan beroleh kelimpahan dari setiap usaha yang dilakukannya. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk iri melihat orang lain yang lebih sukses karena hasil kerja keras. Tetapi jadikanlah itu sebagai cambuk yang menggiatkan, memotivasi atau menjadi daya dorong  dalam mengembangkan bakat, kemampuan, dan talenta yang dimiliki.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bakat Bukan Untuk Dipendamkan"

Posting Komentar